Senin, 06 Agustus 2012

Naskah Drama "Sumbi"


SUMBI
Sebuah drama satu babak
Oleh. D. ipung kusmawi


PANGGUNG MENGGAMBARKAN SUASANA SEBUAH BUTIK. BAHKAN DIPERJELAS DENGAN PAPAN NAMA BERTULISKAN “SUMBI BUTIK”. SUASANA YANG SEMULA SEPI, MENDADAK GADUH DENGAN MUNCULNYA BARKAH, SI TUKANG PARKIR, DENGAN MEMBUNYIKAN PELUITNYA. SETELAH SAMPAI DI TENGAH, LANGKAHNYA TERHENTI. SEJENAK MENGHADAP PENONTON.

BARKAH :
Selamat berjumpa dengan Barkah, si tukang parkir di ‘SUMBI BUTIK’. Tepatnya butik milik Nyai Mas Dayang Sumbi. Anda kenal dengan nama itu?
Betul sekali!
Itulah nama seorang perempuan yang dulu sempat menolak cinta Sangkuriang setelah tahu bahwa laki-laki itu adalah anak kandungnya sendiri. Padahal jauh di lubuk hatinya, dia juga merasakan cinta yang luar biasa pada Sangkuriang. Tapi kodrati manusia tak bisa dilanggarnya. Sekarang perempuan itu (MENUNJUK SUMBI YANG SEDANG MENGAMATI BEBERAPA PAKAIAN YANG TERGANTUNG DI RAK) jadi majikan saya. Bertahan hidup demi mendapatkan kembali cintanya yang sempat hilang.

SUMBI :
Barkah!

BARKAH :
(KAGET) saya, Nyai..

SUMBI :
Tolong parkirkan mobil saya di depan! (MENYERAHKAN KUNCI MOBIL PADA BARKAH)

BARKAH :
(MENERIMA KUNCI) baik, Nyai. (MELANGKAH KE LUAR, PELUITNYA KEMBALI DIBUNYIKAN)

SUMBI :
(KEPADA PENONTON) betul apa kata Barkah. Akulah Nyai Mas Dayang Sumbi itu. Tokoh ibu dalam legenda Sangkuriang, yang dulu menenun, mendulang benang hingga berjodoh dengan si Tumang, dan melahirkan Sangkuriang. Anak durhaka yang kemudian menjelma jadi laki-laki perkasa nan menggoda.
Penolakan yang dulu kulakukan sebatas pelaksanaan kodrat. Tapi keliaran hati tak bisa dipungkiri, cinta itu masih ada, dan aku rela tersiksa dengan raga yang terus muda demi mendapatkan kembali cintanya.
Ah, aku yang dulu penenun, kini telah memiliki ribuan butik. Tapi… (MENGAMATI SATU BAJU YANG  TERNODA) kenapa selalu saja ada kotoran yang abai dibersihkan. Ini pasti ulah Asti, si pencuci itu. (TERIAK) Asti..Asti..!!

DARI BELAKANG MUNCUL ASIH, TERGESA-GESA DENGAN MEMBAWA BEBERAPA PERALATAN MAKE-UP.

ASIH :
Saya, Nyai. Ada yang kurang dengan riasannya? Sini biar Asih rias lagi, biar tambah cantik… (MENCOBA MERIAS SUMBI)

SUMBI :
Aku tak perlu riasan.

ASIH :
Lalu kenapa tadi Nyai panggil saya?

SUMBI :
Bukan kamu yang aku panggil, Asih. Tapi Asti. Sekarang cepat panggil Asti.

ASIH MENGANGGUK. AGAK MENGGERUTU, LANTAS MELANGKAH KE LUAR. MULUTNYA TERIAK MEMANGGIL ASTI.

ASIH :
(TERIAK) Teh Asti…dipanggil Nyai..!!

ASTI ;
Ya, sebentar!

ASIH :
Katanya harus sekarang..cepat..!!

ASTI MUNCUL. TUBUHNYA SEDIKIT MEMBUNGKUK, MEMBERI HORMAT PADA SUMBI.

SUMBI :
Sudah kau cuci semua baju, Asti?

ASTI :
Beres Nyai. Sekarang kan kita punya mesin cuci. Tinggal masukan, tunggu beberapa menit, beres deh..

SUMBI :
Kenapa masih ada noda di baju ini?


ASTI :
Saya, Nyai…

SUMBI :
Cepat bersihkan!

ASTI SEGARA KE LUAR. SUMBI KEMBALI MENGAMATI PAKAIAN YANG LAINNYA. ISAH, SI KOKI DENGAN SEDIKIT RAGU MASUK KE BUTIK. SEJENAK MULUTNYA BERDEHEM, MENAHAN KIKUK.
SUMBI :
Ada apa, cepat bilang!

ISAH :
Sarapan sudah siap Nyai. Makanan pembuka dengan rebusan kentang ditaburi seledri dan acar brokoli. Cemilannya anggur dan jambu kulutuk. Sedangka minumannya jus alpukat campur madu dan jahe. Semuanya segar, baru dipetik, dan siap saji.

SUMBI :
Selalu begitu, deh. Buah dan sayur-sayuran. Apa tidak ada menu yang lain? Bosan!

ISAH :
Ini demi menjaga kecantikan Nyai.

SUMBI :
Aku mau ganti.

ISAH :
Ah, ya..bagaimana dengan rebusan jagung iris ditaburi tauge. Dan minumnya teh tubruk rasa melati..

SUMBI :
Sama juga bohong! Aku minta ganti segala sayur dan buah. Memangnya aku ini monyet!

ISAH :
Sama apa Nyai?

SUMBI :
Sudah lama aku ingin mencicipi enaknya baso, mie ayam, Siomay, cap cay, puyung hay, rendang sapi, telor ceplok, dan.. jangan lupa minumnya …

ISAH :
Teh botol..

SUMBI :
Apa saja, lah. Cepat ambilkan semua makanan itu. Sekarang…cepat..!!
ISAH :
Ba..ba..ik Nyai.. (BERGEGAS PERGI)

SUMBI :
Kerja mereka semakin payah. Teknologi telah membekukan kreativitas. Payah.. (MASUK KE RUANGAN BUTIK)

TAK BERAPA LAMA, ISAH DAN YANG LAINNYA MEMBAWAKAN BEBERAPA PIRING MAKANAN PESANAN SUMBI, DAN MELETAKANNYA DI MEJA. DENGAN HIDMAT MEREKA BERBARIS MENUNGGU KEDATANGAN SUMBI.

SUMBI MUNCUL. MATANYA BERSINAR MENATAP PIRINGAN MAKANAN YANG LAMA DIIMPIKANNYA. KINI TERHIDANG DI ATAS MEJA.

SUMBI :
Selamat tinggal buah dan sayur.. selamat datang siomay..batagor..tahu gejrot…dan..apa ini…oya..ceplok telor..hii..hii..bersiaplah kalian untuk segera kusantap…

DENGAN LAHAP SUMBI SEGERA MEMAKAN SEMUA MAKANAN ITU. NAMUN TUBUHNYA TIBA-TIBA MENGEJANG, KAKU, MENJERIT DIA. ISAH DAN YANG LAINNYA SEGERA MEMEGANGI TUBUH SUMBI. SEBAGIAN MENUTUPINYA DENGAN KAIN PANJANG. NAMUN MEREKA SEMUA TERPENTAL DAN BUBAR TAK KARUAN KETIKA DENGAN PERKASANYA SUMBI MENGHENTAKKAN TUBUHNYA. MEREKA KAGET. SUMBI TELAH BERUBAH MENJADI NENEK TUA YANG MENYEDIHKAN.

ASIH, DLL :
Nyai….

SUMBI MERANGKAK, LALU BERDIRI. ASIH DAN YANG LAINNYA MENATAP NANAR. DENGAN ISAYARAT TANGAN, SUMBI MENYURUH MEREKA PERGI MENINGGALKANNYA.

SUMBI :
Penantian ini harus diakhiri, karena keabadian hanyalah milik Tuhan. Selamat tinggal kecantikan, selamat tinggal kenangan, selamat bertemu kakang Tumang, selamat tinggal kakang Sang..ku..riang….

SUMBI TERPURUK. TAK BERAPA LAMA MUNCUL BARKAH, YANG SIBUK MENGHALANG-HALANGI SESEORANG YANG MEMAKSA MASUK BUTIK YANG DIIKUTI OLEH ASISTENNYA. SESEORANG ITU TERNYATA SANGKURIANG…

BARKAH :
Nanti dulu, mas. Sabar. Mas ini siapa dan mau ketemu siapa?


ASISTEN :
Kamu pengen tahu siapa majikan saya? Kenalkan, beliau ini..

SANGKURIANG :
(MEMOTONG UCAPAN ASISTENNYA) saya Sangkuriang, arsitek Gunung Tangkuban Perahu, yang kini lulusan terbaik S-3 teknik Harvard University, pencipta gedung bertingkat di seluruh jagat.

BARKAH :
Jangan becanda, ah…

SANGKURIANG :
Aku serius. Bahkan tujuan utamaku datang ke sini adalah untuk mencari kembali cintaku yang lama hilang pada kekasihku, Nyai Mas Dayang Sumbi.
BARKAH :
Apa? Cape deh… (PINGSAN)

BARKAH PINGSAN, DITOPANG OLEH TUBUH ASISTEN SANGKURIANG. SANGKURIANG MEMBERI ISYARAT PADA ASISTENNYA UNTUK MEMBAWA BARKAH KE BELAKANG. SEMENTARA DIA SENDIRI MENGHAMPIRI SUMBI YANG MASIH TERPURUK.

SANGKURIANG :
Permisi, Nek. Mungkin nenek tahu di mana Sumbiku berada?

SUMBI MENDEKATI SANGKURIANG, MEMEGANGI WAJAHNYA. MENGAMATINYA. AIR MATANYA SEGERA BERHAMBURAN. LANTAS MELANGKAH KE BELAKANG. DI TENGAH JALAN LANGKAHNYA TERHENTI, KEMUDIAN MEMBALIKKAN TUBUHNYA.

SUMBI :
Sumbi telah lama mati! (BERGEGAR MELANGKAH KE LUAR)

SANGKURIANG :
Sumbi telah lama mati….ah, itu kan kalimat terakhir yang dulu diucapkan Sumbi. Tak salah lagi, kaulah Sumbiku yang kucari.. Sumbi…Sumbi…

SANGKURIANG MENGEJAR SUMBI. MENGEJAR CINTANYA YANG SEBENTAR LAGI MENGHILANG.

Selesai dulu…………!!


Istana mungil kalimanggis, 8.2.07

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar