Sabtu, 04 Agustus 2012

Mengenal Drama


Mengenal Hakikat Drama
oleh. D. Ipung Kusmawi*

Sampai saat ini masih disepakati bahwa drama berasal dari Yunani Kuno. Meskipun waktu dan tempat pertunjukan drama yang pertama kali belum diketahui secara pasti, namun kita masih bisa menelusurinya melalui asal kata drama yaitu ‘draomai’ yang berarti ‘berbuat’atau ‘berlaku’. Istilah ‘draomai’ ini muncul pada saat masyarakat Yunani Kuno masih mengkultuskan Dewa Zeus yang dianggap memiliki kekuasaan penuh terhadap kehidupan manusia di dunia. Melalui upacara ritual, mereka melakukan gerak tari dan nyanyian yang idenya berasal dari gerak-gerik hewan yang dilihatnya ketika sedang berburu. Proses peniruan yang mereka lakukan inilah yang menjadi cikal bakal konsep drama, yaitu tiruan kehidupan manusia yang diproyeksikan di atas pentas.
Pada Zaman Yunani Kuno, drama dikaitkan dengan upacara penyembahan kepada para dewa pemegang kekuasaan dunia. Selain kepada Dewa Zeus, masyarakat Yunani juga mempercayai adanya Dewi Apollo dan Dewa Dionysius. Kehadiran kedua dewa ini di muka bumi dipercaya akan membawa pengaruh terhadap kehidupan Masyarakat Yunani. Ketika bumi dalam keadaan subur makmur (yang ditandai dengan melimpahnya hasil bumi), mereka percaya kalau Dewi Apollo sedang turun ke bumi. Sebagai ungkapan rasa syukur, mereka kemudian melakukan upacara ritual. Dalam upacara itu, mereka mempersembahkan sesaji serta hasil bumi sambil bernyanyi dan menari. Mereka begitu bergembira, yang dalam istilah Yunani disebut cosmos. Dari istilah inilah kemudian dikenal istilah drama komedi, yakni drama yang ceritanya penuh dengan suka cita yang dalam pertunjukkannya membuat penonton tertawa, terhibur, dan bergembira.
Keadaan tersebut berubah ketika Dewa Dionysius turun ke bumi. Bumi yang semula subur makmur berubah menjadi kering kerontang. Kelaparan dan bencana muncul di mana-mana. Keadaan ini membuat masyarakat Yunani kembali melakukan upacara ritual sebagai tolak bala supaya bencana tidak berkelanjutan. Dengan membawa sesaji dan hewan kerbau sebagai persembahan, mereka berkumpul di suatu tempat sambil bernyanyi dan menari dalam gerak dan suara yang diliputi peraaan duka. Di puncak acara, mereka kemudian menyembelih kerbau persembahan. Peristiwa penyembelihan hewan kerbau ini dalam istilah Yunani disebut tragos. Dari istilah tragos pula kemudian dikenal isilah drama tragedi, yaitu drama yang ceritanya dipenuhi dengan duka cita bahkan ditandai dengan kematian tokoh utama.
Dalam setiap upacara ritual yang dilakukannya, masyarakat Yunani biasanya berkumpul di suatu tempat yang disebut  theatronyang artinyatempat pertunjukan‘. Sesuai dengan perjalalanan waktu, kata ‘theatron’ berubah menjadi ‘theater’ (inggris) atau theater (Belanda) yang mempunyai arti gedung pertunjukan atau panggung. Sehubungan dengan pengertian itu dikenal istilah Teater Terbuka, Teater Tertutup, Teater Arena, dan lain sebagainya.
Dari pengertian gedung pertunjukan, kata teater akhirnya dipakai khususnya oleh kelompok seniman drama sebagai ‘kegiatan mempertunjukan drama itu sendiri’. Karenanya, maka kita sering mendengar orang menyebut. “Sedang latihan teater”. Selanjutnya kata tersebut bergeser pula menjadi ‘pertunjukan dramasehingga kita juga sering mendengar kalimat “Nonton Teater.
Akhir-akhir ini kata teater lebih luas lagi pemakainya menjadi nama kelompok seniman yang menyelenggarakan pertunjukan  drama. Mengenai hal ini kita mengenal  nama ‘Teater Mandiri’ pimpinan Putu Wijaya, ‘Teater Populer’ pimpinan Teguh Karya, ‘Teater Kecil’ pimpinan Arifin C. Noor, ‘Teater Koma’ pimpinan N. Riantiarno, ‘Teater Sae’ pimpinan Budi S. Otong, ‘Teater Kubur’ pimpinan Dindon, ‘Bengkel Teater’ pimpinan Rendra, dan banyak lagi nama kelompok teater lainnya.
Kata teater sering dianggap bermakna sama dengan kata drama. padahal, kata teater memiliki makna yang lebih luas karena dapat berarti drama, gedung pertunjukan, panggung, grup pemain drama, juga berarti segala bentuk tontonan yang dipentaskan di depan orang banyak. Sedangkan drama merupakan bentuk cerita atau lakon yang disusun dalam bentuk dialog baik bergaya puisi atau prosa yang mengandung pertentangan dramatik untuk dipentaskan di atas panggung. (Aan Sugiantomas, 1998:42)
Selain istilah drama dan teater, dikenal juga istilah lainnya yang hampir sama yaitu tonil dan sandiwara. Tonil berasal dari bahasa Belanda “toneel  yang artinya ‘pertunjukkan’. Istilah ini mulai dikenal  di Indonesia pada zaman penjajahan Belanda sebelum Perang Dunia II. Sedangkan sandiwara merupakan bentuk pertunjukkan drama yang mulai dikenal  di Indonesia pada Zaman penjajahan Jepang (1942-1945), sebagai pengganti kata toneel yang cenderung kebelanda-belandaan. Sandiwara sendiri berasal dari kata “sandi” yang berarti rahasia dan “warah” yang artinya pesan atau pelajaran. Jadi sandiwara merupakan pesan yang disampaikan secara rahasia melalui laku akting para aktor dalam pertunjukkan drama. 




  

*Pembina dan Sutradara pada teater damar-SMAN 1 Susukan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar