Sabtu, 04 Agustus 2012

MENGENAL SEJARAH DRAMA


SEJARAH DRAMA
Oleh D. Ipung Kusmawi*

Membicarakan drama tidak akan lengkap bila tidak mengenal sejarah drama itu sendiri. Sebagaimana bentuk karya lainnya, drama terlahir melalui proses kreativitas yang cukup panjang. Sejak berabad-abad, para penggiat drama terus melakukan eksplorasi hingga melahirkan berbagai jenis dan bentuk pementasan drama. Meskipun waktu dan tempat pertunjukan drama yang pertama kali dimulai tidak diketahui secara pasti, namun teori tentang asal mulanya bisa ditelusuri berdasarkan hal-hal berikut:
-       Drama berasal dari upacara agama primitif. Proses ritual yang semula hanya berisi puji-pujian serta gerak yang sederhana mulai ditambahi dengan unsur cerita hingga berkembang menjadi pertunjukkan drama.
-       Drama berasal dari nyayian untuk menghormati seorang pahlawan di kuburannya. Dalam prosesnya, seseorang akan mengisahkan riwayat hidup sang pahlawan dengan penuh ekspresi penghayatan. Karena adanya respon dari para penontonnya, riwayat tersebut disampaikan sambil diperagakan dalam bentuk pertunjukkan drama.
-       Drama berasal dari kegemaran manusia mendengarkan cerita baik tentang kisah perburuan, kepahlawanan, perang, maupun kisah-kisah lainnya. Dengan segala kreatifitasnya, manusia kemudian memanggungkan cerita itu ke atas pentas drama.
Bab berikut mendeskripsikan sejarah perkembangan drama yang dimulai dari perkembangan drama di dunia barat, sebelum akhirnya membicarakan perkembangan drama di Indonesia.
a.    Sejarah Drama Dunia
1.    Drama Zaman Yunani
Seperti dibicarakan pada bagian awal, bahwa drama berasal dari zaman Yunani Kuno. Titik tolak dari pandangan ini bermula dari kegiatan upacara ritual yang dilakukan oleh masyarakat Yunani dalam menghormati keberadaan dewa sebagai penguasa bumi sekitar tahun 600 SM. Dalam upacara-upacara keagamaan tersebut mereka mengadakan festival tarian dan nyanyian hingga melahirkan dramawan masyhur bernama Thespis.
Tokoh Yunani lainnya yang terkenal dalam dunia drama adalah Plato, Aristoteles, dan Sophocles. Dengan cara pandangnya yang berbeda, ketiga tokoh ini berperan penting dalam meletakkan dasar-dasar dramaturgi yang dikenal sekarang. Plato yang terkenal dengan karyanya The Republic memandang seni sebagai mimetik atau tiruan dari kehidupan jasmaniah manusia. Aristoteles berpendapat berbeda, dia memandang karya seni bukan hanya sebagai imitasi kehidupan fisik belaka tetapi harus juga dipandang sebagai karya yang mengandung kebajikan dalam diri karya itu sendiri.
Berbeda dengan Plato dan Aristoteles, Sophocles (496-406 SM.) memandang seni sebagai pelukisan manusia seperti seharusnya manusia. Drama-dramanya tidak mempersoalkan kejahatan dan hukumannya secara abstrak. Sedangkan pola drama yang digunakan selalu memunculkan tokoh berkepribadian kuat yang memilih jalan hidup meski berat dan sulit hingga membuatnya menderita. Beberapa karya dramanya yang terkenal yaitu Ayax, Antigone, Wanita-wanita Trachia, Oidipus Sang Raja, Electra, Philoctetes, dan oidipus di Kolonus. Beberapa tokoh drama Yunani lainnya adalah Aeschylus (525-SM.), Euripideus (484-406 SM), Aristophanes (448-380 SM), dan Manander (349-291 SM.). 
Lakon- lakon drama yang terkenal di Yunani umumnya seputar kisah tragedi dan komedi. Drama tragedi cenderung menyajikan kisah yang membuat penonton tegang, takut, dan kasihan. Tokoh drama yang terkenal dalam drama tragedi zaman Yunani Kuno adalah Aeskill (525-456 SM) dengan karyanya yang terkenal seperti Trilogi Oresteia, Orang-orang Persia, Prometheus dibelenggu, dan  Para Pemohon, Sophokles (496-406 SM) dengan karyanya yang terkenal seperti; Trilogi Oidipus, Ajax, Wanita-wanita Trachia, dan  Electra, juga Euripides (484-406 SM) dengan karyanya yang terkenal seperti; Hercules, Medea, Wanita-wanita Troya, dan Cyclop.

Drama komedi biasanya menyajikan kisah yang lucu, kasar dan sering mengeritik tokoh terkenal pada waktu itu. Tokoh drama yang terkenal dalam drama komedi zaman Yunani Kuno adalah Aristhipanes (445-385 SM) dengan karyanya yang terkenal seperti Para Perwira, Lysistrata, dan Burung-burung, dan Menander (349-291 SM) dengan karyanya yang terkenal yaitu Rasa Dongkol. Selain dua jenis drama tersebut, drama zaman Yunani mengenal juga drama satyr, yaitu bentuk drama yang berupa komedi ringan dan pendek. Unsur humor yang disajikan merupakan parodi terhadap mitologi. Karya satyre Yunani Kuno yang diketahui hanya Cyclop karya Euripides.
Semua lakon yang sudah ditulis dalam bentuk naskah drama ini dipentaskan di panggung terbuka yang berada di ketinggian. Panggung tersebut berada di tengah-tengah yang dikelilingi oleh tempat duduk penonton yang melingkari bukit. Gedung pementasan drama yang terkenal di Athena pada saat itu adalah Teater Dionysius di samping bawah bukit Acropolis, pusat kuil kota Athena yang dapat menampung 14.000 penonton.
Dalam prosesnya, pementasan drama di Yunani seluruhnya dimainkan pria. Bahkan peran wanitanya dimainkan pria dan memakai topeng. Hal ini disebabkan karena setiap pemain memerankan lebih dari satu tokoh. Selain pemeran utama juga ada pemain khusus untuk kelompok koor (penyanyi), penari, dan narator (pemain yang menceritakan jalannya pertunjukan).
2.    Drama Zaman Romawi
Pada zaman Romawi, drama mulai dipentaskan pada tahun 240 SM di kota Roma oleh seniman Yunani yang bernama Livius Andronicus. Bentuk yang dipentaskan pada saat itu adalah drama tragedi. Penulis drama tragedi lainnya yang terkenal adalah Lucius Annaeus Seneca. Selain bentuk tragedi, drama zaman Romawi juga mementaskan bentuk komedi meskipun dalam penyajiannya banyak mencontoh dan mengembangkan komedi baru Yunani. Penulis drama tragedi zaman Romawi yang terkenal adalah Terence dan Plautus.
Karena merupakan hasil adaptasi dari drama Yunani, maka dalam konsep pertunjukkan drama Romawi juga terdapat konsep pertunjukkan drama Yunani. Meski demikian, drama zaman Romawi memiliki kebaruan-kebaruan  dalam penggarapan dan penikmatan yang asli dimiliki oleh masyarakat Romawi dengan ciri-ciri sebagi berikut :
1.      Koor tidak lagi berfungsi mengisi setiap adegan.
2.      Musik menjadi pelengkap seluruh adegan. Tidak hanya menjadi tema cerita tetapi juga menjadi ilustrasi cerita.
3.      Tema berkisar pada masalah hidup kesenjangan golongan menengah.
4.      Karekteristik tokoh tergantung kelas yaitu orang tua yang bermasalah dengan anak-anaknya atau kekayaan, anak muda yang melawan kekuasaan orang tua dan lain sebagainya.
5.      Seluruh adegan terjadi di rumah,  di jalan dan di halaman.
Dalam sejarahnya, drama zaman Romawi menjadi penting karena pengaruhnya pada zaman Renaisance. Banyak penulis Renaisance yang mempelajari drama-drama Yunani lewat saduran-saduran Romawinya, misalnya dramawan William Shakespeare. Namun secara perlahan, drama Romawi mengalami kemunduran setelah bentuk Republik diganti  dengan kekaisaran tahun 27 Sebelum Masehi. Drama Romawi kemudian tidak muncul lagi setelah terjadi penyerangan bangsa-bangsa Barbar serta  munculnya kekuasaan gereja. Pertunjukan drama terakhir yang diselenggarakan di Roma terjadi tahun 533 M.
3.    Drama Abad Pertengahan
Drama abad pertengahan berkembang antara tahun 900 – 1500 M dengan mendapat pengaruh dari Gereja Katolik. Dalam pementasannya terdapat nyanyian yang dilagukan oleh para rahib dan diselingi dengan koor. Kemudian ada pagelaran ‘pasio’ seperti yang sering dilaksanakan di gereja menjelang upacara Paskah sampai saat ini. Lakon yang dimainkan mula-mula peristiwa kenaikan Yesus ke surga, sekitar cerita Natal, cerita-cerita dari bible, hingga lakon tentang para orang suci (santo-santo).
Ketika gereja tidak memperbolehkan mementaskan drama di dalam gereja, maka drama kemudian dipentaskan di jalan- jalan dan di lapangan. Hal ini berpengaruh pada perubahan tema lakon yang lebih cenderung tentang kebajikan, kekayaan, kemiskinan, pengetahuan, kebodohan, dan sebagainya. Pementasan drama seperti ini disebut drama moral, karena mengajarkan adanya pertarungan abadi antara kejahatan dengan kebaikan dalam hati manusia. Di tengah pementasan, biasanya dimasukkan unsur badut untuk memancing tawa penonton karena jenuh menyaksikan pementasan yang berjalan lamban. Ketika muncul reformasi sekitar tahun 1600 M, perkembangan drama abad pertengahan mengalami kemunduran hingga lenyap sama sekali.
Ciri-ciri  teater abad Pertengahan adalah sebagai berikut:
a)        Dimainkan oleh aktor-aktor yang belajar di universitas sehingga dikaitkan dengan masalah filsafat dan agama.
b)        Aktor bermain di panggung di atas kereta yang bisa dibawa berkeliling  menyusuri jalanan.
c)        Dekor panggung bersifat sederhana dan simbolis.
d)       Lirik-lirik dialog drama menggunakan dialek atau bahasa.
e)        Dimainkan di tempat umum dengan memungut bayaran.
f)         Tidak memiliki nama pengarang secara pasti untuk lakon yang dipentaskannya.
4.    Drama Zaman Italia
Selama abad ke-17, Italia berusaha mempertahankan bentuk Commedia dell’arte yang bersumber dari komedi Yunani. Pada tahun 1575 bentuk ini sudah populer di Italia. Kemudian menyebar luas di Eropa dan mempengaruhi semua bentuk komedi yang diciptakan pada tahun 1600. Ciri Khas Commedia Dell’arte adalah:
a)        Menggunakan naskah lakon yang berisi garis besar cerita.
b)        Para pemain dibebaskan berimprovisasi mengikuti jalannya cerita  dan dituntut memilikik pengetahuan luas yang dapat mendukung permainan  improvisasinya.
c)        Cerita yang dimainkan bersumber pada cerita yang diceritakan secara turun menurun.
d)       Cerita terdiri dari tiga babak didahului prolog panjang.
e)        Plot cerita berlangsung dalam suasana adegan lucu.
f)         Peristiwa  cerita berlangsung dan berpindah secara cepat .
g)        Terdapat  tiga tokoh  yang selalu muncul, yaitu tokoh penguasa, tokoh penggoda, dan tokoh pembantu.
h)        Tempat pertunjukannya di lapangan kota dan panggung-panggung sederhana.
i)          Setting panggung sederhana yaitu; rumah, jalan, dan lapangan.
Para penulis naskah komedi terkenal pada masa itu adalah Carlo Goldoni, dengan karya-karyanya seperti: Hamba Dua Majikan (1745), Keluarga Pedagang Antik (1750), Si Pendusta (1750), Nyonya Sebuah Penginapan (1753); dan Carlo Gozzi, dengan karya-karyanya yang banyak mengambil tokoh-tokoh dongeng dan fantasi. Commedia dell’arte mulai merosot dan tidak populer di Italia pada akhir abad ke-18. Sedang dalam tragedi, penulis Italia yang menonjol pada abad itu adalah Vittorio Alfieri dengan karyanya yang terkenal yaitu Saul (1784) dan Mirra (1786).
5.    Drama Zaman Elizabeth
Pada awal pemerintahan Ratu Elizabeth I di Inggris (1558-1603), drama berkembang dengan sangat pesatnya. Gedung-gedung pementasan besar bermunculan mengikuti gedung pemntasan yang telah lebih dulu diangun atas prakarsa sang ratu. Salah satu gedung pementasan terbesar yang disebut Globe, bisa menampung 3.000 penonton. Globe mementaskan drama-drama karya William Shakespeare, penulis drama terkenal dari inggris yang hidup dari tahun 1564 sampai tahun1616. Ciri-ciri teater zaman Elizabeth adalah:
a)        Menggunakan naskah lakon yang dilaognya cenderung berbentuk puitis dan panjang-panjang.
b)        Penyusunan naskah lebih bebas , tidak mengikuti hukum yang sudah ada.
c)        Pertunjukan dilaksanakan siang hari dan tidak mengenal waktu istirahat.
d)       Tempat adegan ditandai dengan ucapan yang disampaikan dalam dialog para tokoh.
e)        Tokoh wanita dimainkan oleh pemain anak-anak laki-laki, bukan pemain wanita.
f)         Penontonnya berbagai lapisan masyarakat dan diramaikan oleh penjual makanan dan minuman.
g)        Corak pertunjukannya merupakan perpaduan antara teater keliling dengan teater sekolah dan akademi yang keklasik-klasikan.
Dramawan paling terkenal pada zaman ini adalah William Shakespeare (1546-1616). Selain Romeo dan Juliet, Shakespeare juga menulis beberapa naskah drama lainnya seperti The Comedy of Error, A Midsummer Night’s Dream, The Merchant of Venice, Julius Caesar, Hamlet, Macbeth, King Lear, Richard II, Richard III, Hnery V, dan sebagainya. Di Indonesia, beberapa naskah drama karya Shakespeare diterjemahkan oleh Trisno Sumardjo, Muh. Yamin, dan Rendra. Dramawan lainnya setelah Shakespeaer adalah Thomas Dekker, Thomas Heywood, John Marston, Thomas Middleton, dan Christopher Marlowe.
Kegiatan drama di Inggris sempat mengalami kemunduran ketika kaum Puritan yang berkuasa menutup dan melarang segala bentuk kegiatan pementasan drama. Namun setelah Charles II berkuasa kembali, ia menghidupkan kembali kegiatan drama. Fase ini disebut zaman restorasi. Adapun ciri- ciri teater pada zaman restorasi adalah:
a)        Tema cerita bersifat umum dan penonton sudah mengenalnya.
b)        Tokoh wanita diperankan oleh Pemain wanita.
c)        Penonton tidak lagi semua lapisan masyarakat, tetapi hanya kaum menengah dan kaum atasan.
d)       Gedung teater  mencontoh gaya Italia.
e)        Pementasan diselenggarakan di  gedung  proscenium diperluas dengan menambah area yang disebut apron sehingga terjadi komunikasi yang intim antara pemain dan penonton.
f)         Setting panggung bergambar perspektif dan  lebih bercorak umum, misalnya taman atau istana.

6.    Drama Zaman Perancis
Drama di Perancis merupakan  penerus drama abad pertengahan, yaitu drama yang mementingkan pertunjukan dramatik, bersifat seremonial dan ritual kemasyarakatan. Beberapa kelompok drama amatir yang eksis pada masa itu dikelola oleh para pengusaha seperti Confrerie de la Passion yang memiliki gedung pementasan yang tetap di Paris sekitar tahun 1400. Kelompok ini memiliki monopoli di bawah lindungan istana hingga tahun 1598 sebelum akhirnya disewa oleh rombongan Les Comedians du Roi.
Drama zaman Prancis memiliki konsep penulisan naskah yang cenderung menggabungkan drama-drama klasik dengan tema-tema sosial yang dikaitkan dengan budaya pikir kaum terpelajar. Perubahan besar terjadi sekitar tahun 1630-an, ketika teori neoklasik dari Italia masuk ke Prancis. Pada waktu itu di Prancis teori ini amat dipegang teguh dan dipatuhi lebih dari negara manapun. Dasar dari teori neoklasik itu adalah:
a)        Hanya ada 2 bentuk drama, yaitu tragedi dan komedi yang keduanya tak boleh dicampur.
b)        Drama harus berisi ajaran moral yang disajikan secara menarik.
c)        Karakter harus menggambarkan sifat umum, yang universal dan bukan individual.
d)       Mempertahankan kesatuan waktu, tempat, dan kejadian.
Dramawan Perancis yang terkenal pada waktu itu adalah Pierre Corneille (1606–1684) dengan karya-karya: Horace, Cinna, Polyceucte, dan Rodogune; Jean Racine (1639-1699) dengan karya-karya: La Thebaide, Alexandre, Les Plaideurs; Moliere (1622-673) dengan karya-karyanya yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia: Sekolah Istri, Dokter Gadungan, Cacad Bayangan, dan sebagainya.
Pada abad 18, drama di Perancis dimonopoli oleh pemerintah dengan Comedie Francaise-nya. Secara tetap mereka mementaskan komedi dan tragedi, sedangkan bentuk opera, drama pendek dan burlesque dipentaskan oleh rombongan drama Italia : Comedie Italienne yang biasanya mementaskan di pasar-pasar malam. Sampai akhir abad 18, Perancis menjadi pusat kebudayaan Eropa. Drama Perancis yang neoklasik menjadi model di seluruh Eropa.  Kecenderungan neoklasik menjalar ke seluruh Eropa.

7.    Drama Abad 19
Abad 19 merupakan babak baru bagi proses perkembangan drama. Perpindahan orang-orang berkelas ke kota karena Revolusi Industri turut menyebabkan perubahan pada seni drama. Di Inggris, sebuah  drama kloset atau naskah lakon yang sepenuhnya tidak dapat dipentaskan mulai bermunculan. Tercatat beberapa nama penulis drama kloset seperti Wordswoth, Coleridge, Byron, Shelley, Swinburne, Browning, dan Tennyson. Baru pada akhir abad 19, drama di Inggris menunjukkan tanda-tanda kehidupan dengan munculnya Henry Arthur Jones, Sir Arthur Wing Pinero, dan Oscar Wilde. Juga terlihat kebangkitan  pergerakan teater independen yang menjadi perintis pergerakan “Teater Kecil” yang  nanti di abad ke 20 tersebar luas, misalnyai Theatre Libre Paris, Die Freie Buhne Berlin, independent Theater London dan Miss Horniman’s Theater Manchester yang mana Ibsen, Strindberg, Bjornson, Yeats, Shaw, Hauptmann dan Synge mulai dikenal masyarakat.
Selama  akhir abad 19 di Jerman muncul dua penulis lakon kaliber  internasional yaitu Hauptmann dan Sudermann. Seorang doktor Viennese, Arthur Schnitzler, juga menjadi dikenal luas di luar tempat asalnya Austria dengan naskah lakon yang ringan dan menyenangkan berjudul Anatol. Di Perancis, Brieux menjadi perintis teater realistis dan klinis. Sedangkan di Paris dikenal naskah drama berjudul Cyrano de Bergerac karya Edmond Rostand.
Sementara itu di Italia Giacosa menulis lakon  terbaiknya yang banyak dikenal, As the Leaves, dan mengarang syair-syair untuk opera, La Boheme, Tosca, dan Madame Butterfly. Verga menulis In the Porter’s Lodge, The Fox Hunt, dan Cavalleria Rusticana, yang juga lebih dikenal melalui opera Muscagni. Penulis lakon Italia  abad 19 yang paling terkenal adalah, Gabriel d’Annunzio, Luigi Pirandello dan Sem Benelli dengan lakon berjudul  Supper of Jokes yang dikenal di Inggris dan Amerika sebagai The Jest. Bennelli  dengan lakon Love of the Three Kings-nya dikenal di luar Italia dalam bentuk opera.
Di Spanyol Jose Echegaray menulis The World and His Wife; Jose Benavente dengan karyanya Passion Flower dan Bonds of Interest dipentaskan di Amerika; dan Sierra bersaudara dengan naskah lakon  Cradle Song menjadi penghubung   abad ke 19 dan 20, seperti halnya Shaw, Glasworthy, dan Barrie di Inggris, serta Lady Augusta Gregory dan W.B. Yeats di Irlandia.
Perkembangan drama di Amerika sampai abad 19 dikuasai oleh “Stock Company” dengan sistem bintang. Stock Company merupakan sebuah rombongan drama lengkap dengan peralatannya serta bintang-bintangnya yang rutin mengadakan perjalanan keliling. Dengan dibangunnya jaringan kereta api pada tahun 1870-an, Stock Company makin berkembang. Hal ini menyebabkan seni drama tersebar luas di seluruh Amerika hingga memunculkan beberapa kelompok drama lokal. Stock company lenyap sekitar tahun 1900. Sindikat teater berkuasa di Amerika dari tahun 1896-1915. Realisme kemudian menguasai panggung-panggung drama Amerika pada  Abad 19. Usaha melukiskan kehidupan nyata secara teliti dan detail ini dimulai dengan pementasan-pementasan naskah-naskah sejarah. Setting dan kostum diusahakan sepersis mungkin dengan zaman cerita. Charles Kenble dalam memproduksi “King John” tahun 1823 (naskah Shakespeare) mengusahakan ketepatan sampai hal-hal yang detail.
Zaman Realisme yang lahir pada penghujung abad 19 dapat dijadikan landas pacu lahirnya seni drama modern di barat. Penanda yang kuat adalah timbulnya gagasan untuk mementaskan lakon kehidupan di atas pentas dan menyajikannya seolah peristiwa itu terjadi secara nyata. Gagasan ini melahirkan konvensi baru dan mengubah konvensi lama yang lebih menampilkan seni drama sebagai sebuah pertunjukan yang memang dikhususkan untuk penonton. Tidak ada lagi pamer keindahan bentuk akting dan puitika kata-kata dalam Realisme. Semua ditampilkan apa adanya seperti sebuah kenyataan kehidupan.
8.    Drama Modern
Drama modern pada dasarnya merupakan proses lanjutan dari kejayaan pementasan drama sebelumnya yang dimulai sejak zaman Yunani. Perubahan yang nampak terdapat pada hampir seluruh unsur drama pentas. Berbagai karakter tokoh di atas pentas diekspresikan dengan konsep pementasan modern yang memiliki efek-efek khusus dan teknologi baru dalam unsur musik, dekorasi, tata cahaya, dan efek elektronik. Gaya permainannya pun cenderung didominasi realistis hingga mengalami kejenuhan dan lebih menjurus pada gaya permainan yang eksperimental.
Perkembangan gaya eksperimental ditandai dengan banyaknya gaya baru yang lahir baik dari sudut pandang pengarang, sutradara, aktor ataupun penata artistik. Tidak jarang usaha para dramawan berhasil dan mampu memberikan pengaruh seperti gaya; Simbolisme, Surealisme, Epik, dan Absurd. Tetapi tidak jarang pula usaha mereka berhenti pada produksi pertama. Lepas dari hal itu, usaha pencarian kaidah artistik yang dilakukan oleh seniman drama modern patut diacungi jempol karena usaha-usaha tersebut mengantarkan kita pada keberagaman bentuk ekspresi dan makna keindahan.
Selain konsep dan bentuk pementasan yang modern, perkembangan drama modern dunia juga ditandai dengan munculnya beberapa dramawan yang namanya mendunia seperti:
1.      Henrik Ibsen (1828-1906) dari Norwegia dengan karyanya seperti Nora, Love’s Comedy, Brand and Peer Gynt, A Doll’s House, An Enemy of the People, The Wild Duck, Hedda Gabler, dan Rosmershom.
2.      Augst Strindberg (1849-1912) dari Swedia dengan karyanya seperti Saga of the Folkung, Miss Julia, The Father, A Dream Play, The Dance of Death, dan The Spook Sonata.
3.      George Bernard Shaw (1856-1950) dari Inggris dengan karyanya seperti Man and Superman, Arms and The Man, Major Barbara, Saint Joan, The Devil’s Disciple, dan Caesar and Cleopatra.
4.      William Butler Yeats (1884) dari Irlandia dengan karyanya seperti The Shadow of a Gunman, Juno and the Paycock, The Plough and the Stars, The Silver Tassie, Within the Gates, dan The Star Turns Red.
5.      Emile Zola (1840-1902) dari Prancis dengan karya drama terkenalnya yaitu Therese Raquin. Selain Zola, dramawan Prancis lainnya yang terkenal adalah Jean paul Sartre (1905-....) dengan karyanya seperti Huis Clos dan Les Mouches.
6.      Bertolt Bercht (1898-1956) dari Jerman dengan karyanya seperti Threepenny Opera, Mother Courage, dan The Good Woman of Setzuan.
7.      Luigi Pirandello (1867-1936) dengan karyanya seperti Right You Are, If You Think You Are, As You Desire Me, Henry IV, Naked, Six Characters in Search of an Author, dan Tonight We Improvise.
8.      Federico Garcia Lorca (1889-1936) dari Spanyol dengan karyanya seperti The Shoemaker’s Prodigius Wife, dan The House of Bernarda Alba.
9.      Maxim Gorky (1868-1936) dari Rusia dengan karya drama terkenalnya yaitu The Lower Depth.
10.  Tennesse Williams (1914-....) dari Amerika dengan karyanya seperti Cat on a Hot Tin Roof, Orpheos Descending, Baby Doll, dan Sweet Bird of Youth.

b.   Sejarah Drama Indonesia
Bangsa kita sudah mengenal  drama sejak jaman dulu. Keberadaannya ditandai dengan adanya kegiatan ritual keagamaan yang dilakukan oleh para pemuka agama dan diikuti oleh masyarakat sekitarnya. Karena kegiatan ritual keagamaan erat kaitannya dengan kehidupan masyarakat, maka kegiatan ritual ini kemudian mengalami perkembangan dengan dimasukannya  unsur tari dan musik sesuai dengan perkembangan kehidupan masyarakat itu pula. Dibanding dengan upacara-upacara ritual keagamaan di Barat, upacara-upacara ritual di Indonesia sifatnya lebih puitis karena dilakukan dengan cara mengucapkan mantera- mantera.
Pada perkembangan berikutnya, Berdasarkan cara-cara melakukan upacara keagamaan itu lahirlah tontonan drama, yang kemudian berkembang sesuai dengan selera masyarakat dan perkembangan zaman. Berdasarkan kurun waktunya, perkembangan drama di Indonesia dikelompokkan menjadi drama atau teater tradisional, drama atau teater transisi dan drama atau teater modern.
1.      Drama atau Teater Tradisional
Sebelum masa kemerdekaan, Indonesia mengenal istilah drama tradisional yaitu bentuk drama  yang yang bersumber dari tradisi masyarakat lingkungannya. Drama tradisional ini merupakan hasil kreatifitas berbagai suku bangsa Indonesia di beberapa daerah. Dasar cerita yang digunakannya bersumber dari sastra lama seperti pantun, syair, dongeng, legenda atau sastra lisan daerah lainnya. Karena bertolak dari sastra lisan inilah, maka drama tradisional dipentaskan tanpa menggunakan naskah. Semua dialog serta gerak laku aktor di atas panggung diungkapkan secara spontan dan hanya mengandalkan improvisasi. Dalam penyajiannya, drama tradisional ini juga dilakukan dengan menari menyanyi dengan diiringi oleh tetabuhan serta sisipan lelucon, dagelan, atau banyolan.
Kemunculan drama tradisional di Indonesia antar daerah satu dengan daerah lainnya sangat bervariasi. Hal ini disebabkan oleh unsur-unsur pembentuk teater tradisional itu yang berbeda-beda, tergantung dari kondisi dan sikap budaya masyarakat, sumber dan tata-cara di mana teater tradisional lahir.
Drama tradisional ini terbagi lagi menjadi drama atau teater tutur, drama atau teater rakyat, serta drama ata teater wayang. Berikut ini disajikan beberapa bentuk teater tradisional yang ada di daerah-daerah di Indonesia.
a)      Drama atau Teater Tutur
Drama atau teater tutur merupakan suatu jenis pementasan drama yang bertolak dari sastra lisan yang dituturkan dan belum diperagakan secara lengkap. Proses pementasannya hanya dituturkan oleh dalang dan sering dilakukan dengan menyanyi serta diiringi oleh suatu tabuhan. Berikut ini disajikan beberapa bentuk drama atau teater tutur yang ada di daerah-daerah di Indonesia.
1)      PMTOH di Aceh
Drama atau teater tutur di Aceh bermula dari pembacaan hikayat (peugah haba) yang disampaikan oleh seorang penutur cerita yang hanya dilengkapi dengan sebilah pedang dan bantal. Penampilan nyaris tanpa akting, dan agak sulit mengikuti alur cerita karena tidak terjadi perubahan karakter tokoh. Penggiat drama tutur ini adalah Mak Lapee dan Teungku Ali Meukek.
Drama atau teater tutur ini menjadi menarik setelah dikembangkan Teungku Adnan dengan mempergunakan alat musik rapa’i, pedang, suling (flute), bansi (block flute) dan mempergunakan proferti mainan anak-anak, serta kostum. Oleh Teungku Adnan dan para apresiatornya pertunjukkan drama ini dinamai PMTOH. Nama ini diambil dari sebuah tiruan bunyi klakson bus bernama P.M.T.O.H yang sering ditumpangi oleh Teungku Adnan ketika hendak berjualan obat sambil menunjukkan kepiawaiannya bercerita. Kekuatan yang paling mendasarkan dalam teater tutur P.M.T.O.H adalah daya improvisasi penyaji yang sangat tinggi. Gaya komedikalnya membawakan hikayat masa lalu dikaitkan dengan peristiwa masa kini.
2)      Bakaba di Sumatera Barat
Bakaba merupakan drama rakyat dari Sumatera Barat yang dalam pertunjukkannya dituturkan oleh sekurang-kurangnya dua tukang cerita dalam prosa liris yang dilagukan. Lagu yang disampaikan disesuaikan dengan kebutuhan cerita. Untuk mengiringi tukang cerita tersebut, biasanya digunakan musik pengiring seperti rebab, kecapi dan rebana. Pada saat pertunjukkan tidak jarang terjadi komunikasi antara penutur cerita dengan para penonton. Pertunjukkan Bakaba ini biasanya dilaksanakan apabila salah satu anggota keluarga melangsungkan acara perkawinan, pesta panen atau menempati rumah baru.

3)      Pantun Sunda dari Jawa Barat
Sesuai dengan arti kata pantun yaitu ‘padi’, pada awalnya pantun Sunda dihubungkan dengan pemujaan terhadap Dewi Padi yaitu Nyi Pohaci, Kersa Nyai, atau Nyi Pohaci Sang Hyang Sri. Pada perkembangan selanjutnya sering dilaksanakan pada upacara keluarga seperti ruwatan, kelahiran, khitanan, perkawinan, kematian, dan nazar.
Cerita pantun kebanyakan memaparkan kerajaan-kerajaan Sunda lama seperti Galuh dan Pajajaran. Cerita lain yang sering muncul antara lain ‘Munding Laya Dikusumah’, ‘sangkuriang’, ‘Ciung Wanara’, ‘Sumur Bandung’, ‘Sulanjaya’, ‘Kidang Pananjung’, dan lain-lain. Cerita-cerita tersebut disampaikan oleh seorang juru pantun yang dibantu oleh dua orang nayaga yaitu penabuh musik pengiring (kecapi).

4)    Kentrung, dari Jawa Timur
Secara umum, kentrung  merupakan bentuk drama berupa cerita yang disampaikan secara lisan oleh dalang kentrung. Meski demikian, pengertian kata kentrung bisa dibedakan menjadi dua, yakni berdasarkan penyingkatan dua kata dan bunyi yang dikeluarkan oleh instrumen. Pengertian yang pertama, kentrung berasal dari kata Ngre’ken (menghitung ) dan Ngantung (berangan-angan). Maksudnya mengatur jalannya dengan berangan-angan. Pengertian kedua berasal dari bunyi kata Kluntrang-Kluntrung yang artinya pergi dan mengembara kesana kemari.
Kesenian kentrung banyak dijumpai di Jawa Tengah dan Jawa Timur khususnya di derah pesisir timur selatan. Selain itu, juga terdapat di sentra daerah, misalnya Surabaya, Jember, Pasuruan, Bojonegoro, Lamongan. Nganjuk dan Jombang. Kentrung biasanya dipentaskan pada acara sunatan, tingkeban, perkawinan, atau ruwatan. Cerita yang disajikan adalah prosa yang diselingi oleh puisi yang dilagukan dengan iringan tabuhan rebana, gendang, angklung, lesung, terompet, dan lain-lain.
Sepanjang pementasanya Kentrung hanya diisi oleh seorang dalang yang merangkap sebagai penabuh gendang dan ditemani oleh penyenggak serta para personel yang memegang instrumen jidor, ketipung/kempling/timplung, dan kendang. Dalam perkembangannya pemain kentrung sudah bisa berekspresi memerankan tokoh seperti pemain ludruk dan kesenian ketoprak.

5)      Cekepung di Lombok.
Cekepung berawal dari tiruan bunyi alat musik yang diujarkan cek...cek...cek...pung. Cekepung pada dasarnya adalah seni membaca kitab lontar yang diiringi oleh instrumen suling, dan beberapa peniruan bunyi alat musik oleh ujaran. Pemain cekepung sedikitnya terdiri dari 6 orang pemusik dan penyanyi serta seorang pembaca lontar. Masing-masing bertugas memainkan suling, redep (rebab, sejenis alat musik yang digunakan dalam kesenian gambang keromong, Betawi). Kemudian ada pemaos (pembaca naskah lontar), penyokong (pendukung), dan punggawa (penerjemah) naskah Lontar Monyeh sebagai sumber cerita. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Sasak dengan penjelasan gerak tari, mimik wajah, dan lawakan.
6)      Sinrilik di Sulawesi Selatan
Sinrilik merupakan pertunjukkan drama tutur yang dari Sulawesi Selatan (khususnya daerah Gowa dan Maros) yang dinyanyikan dalam bahasa Makasar oleh seorang pasinrili dan dimainkan para pemain dengan iringan keso-keso (rebab). Tema-tema sinrilik menyangkut kepahlawanan, keagamaan dan cinta. Baik ceritanya maupun musiknya diimprovisasikan, namun mampu membangkitkan perasaan, keindahan dan komedi.
Dulu Sinrilik hanya dipentaskan apabila raja yang meminta, namun kesenian ini kemudian berubah bentuk menjadi pertunjukkan drama populer yang disenangi seluruh lapisan masyarakat. Pertunjukkannya biasanya dilakukan di anjungan rumah atau halaman pada acara-acara tertentu sperti syukuran, pesta panen, membangun rumah, dan sebagainya. Sedangkan waktunya dilakukan siang hari atau malam setelah sembahyang isya.

7)      Wayang Beber dari Pacitan
Wayang Beber berbentuk lukisan di atas kertas tentang wayang yang bergambar seperti wayang kulit purwa. Lukisan wayang tergantung pada cerita yang disajikan, jadi semacam komik tanpa dialog. Lukisan wayang terdiri dari enam gulung, dan setiap gulung terdiri dari empat adegan. Sambil membeberkan lukisan itu, dalang bernarasi sambil diiringi seperangkat gamelan, rebab, kendang, kenong, gong, dan lain-lain yang dipikul beberapa pemusik. Pertunjukkan ini turun temurun artinya tidak bisa diturunkan atau diajarkan kepada orang lain selain keluarga. Biasanya pertunjukkan untuk upacara ruwatan dan nazar saja.


b)     Drama atau Teater Rakyat
Drama atau Teater Rakyat merupakan jenis drama yang berkembang dan hidup di tengah masyarakat pedesaan.  pada umumnya dilakukan secara spontan dengan cerita-cerita yang hidup di daerah tersebut. Cerita-cerita tersebut  biasanya diambil dari cerita lisan atau diambil dari sastra lisan.
Seperti drama tutur, dalam pertunjukkannya jenis drama ini juga dilengkapi dengan musik tradisional, tari-tarian,  serta lagu. Jenis drama ini juga dikenal begitu akrab dengan penontonnya. Humor atau banyolan selalu spontan muncul sebagai dialog segar dari para aktor yang kadang bisa dijawab oleh para penontonnya. Berikut ini disajikan beberapa bentuk drama atau teater rakyat yang ada di daerah-daerah di Indonesia.
1)    Randai dari Sumatera Barat
Randai merupakan suatu bentuk teater tradisional yang bersifat kerakyatan yang terdapat di daerah Minangkabau, Sumatera Barat. Randai hidup, berkembang, serta masih digemari oleh masyarakatnya, terutama di daerah pedesaan atau di kampung-kampung. Seperti  drama tradisional lainnya di Minangkabau, cerita Randai bertolak dari sastra lisan yang disebut “kaba” (dapat diartikan sebagai cerita).
Ada dua unsur pokok yang menjadi dasar Randai, yaitu.
a)      Unsur penceritaan. Cerita yang disajikan adalah kaba, dan disampaikan lewat gurindam, dendang dan lagu. Sering diiringi oleh alat musik tradisional Minang, yaitu salung, rebab, bansi, rebana atau yang lainnya, dan juga lewat dialog.
b)      Unsur laku dan gerak, atau tari, yang dibawakan melalui galombang. Gerak tari yang digunakan bertolak dari gerak-gerak silat tradisi Minangkabau, dengan berbagai variasinya dalam kaitannya dengan gaya silat di masingmasing daerah.

2)    Lenong, dan Topeng Blantek di Jakarta.
(a)    Lenong
Lenong merupakan drama rakyat dari Betawi (Jakarta). Selain lenong, di Jakarta masih terdapat empat jenis drama rakyat lainnya seperti topeng Betawi, topeng blantek, dan jipeng atau jinong. Pada kenyataannya keempat teater rakyat tersebut banyak persamaannya. Perbedaan umumnya hanya pada cerita yang dihidangkan dan musik pengiringnya. Cerita lenong umumnya mengandung pesan moral, yaitu berbuat kebajikan dan melawan kejahatan. Berbagai cerita yang ditampilkan di atas panggung akan berkembang dari lawakan-lawakan yang dirangkai-rangkai hingga menjadi pertunjukan semalam suntuk dengan lakon panjang dan utuh.
Dalam pertunjukkannya, lenong menggunakan bahasa Betawi kental yang segar, penuh humor, dan saling ledek. Drama jenis ini telah menggunakan panggung, dekorasi, dan properti seperti meja dan dua buah kursi. Musik yang digunakan untuk mengiringi adegan cerita dalam lenong adalah gambang, kromong, gong, kendang, kempor, suling, dan kecrekan, serta alat musik unsur Tionghoa seperti tehyan, kongahyang, dan sukong.
Lenong berkembang sejak akhir abad ke-19 atau awal abad ke-20. Kesenian teatrikal tersebut mungkin merupakan adaptasi oleh masyarakat Betawi atas kesenian serupa seperti "komedi bangsawan" dan "teater stambul" yang sudah ada saat itu. Pada mulanya kesenian ini dipertunjukkan dengan mengamen dari kampung ke kampung. Pertunjukan diadakan di udara terbuka tanpa panggung. Selanjutnya, lenong mulai dipertunjukkan atas permintaan pelanggan dalam acara-acara di panggung hajatan seperti resepsi pernikahan. Baru di awal kemerdekaan, teater rakyat ini murni menjadi tontonan panggung.
Dalam perkembangan selanjutnya, terdapat dua jenis lenong yaitu lenong denes dan lenong preman. Dalam lenong denes (dari kata denes dalam dialek Betawi yang berarti "dinas" atau "resmi"), aktor dan aktrisnya umumnya mengenakan busana formal dan kisahnya ber-seting kerajaan atau lingkungan kaum bangsawan, sedangkan dalam lenong preman busana yang dikenakan tidak ditentukan oleh sutradara dan umumnya berkisah tentang kehidupan sehari-hari. Selain itu, kedua jenis lenong ini juga dibedakan dari bahasa yang digunakan; lenong denes umumnya menggunakan bahasa yang halus (bahasa Melayu tinggi), sedangkan lenong preman menggunakan bahasa percakapan sehari-hari.
(b)   Topeng Blantek
Menurut asal katanya, Blantek mengandung arti ‘campur aduk’ atau ‘tidak karuan’. Topeng Blantek ini muncul di wilayah Jawa Barat bagian selatan Jakarta seperti Bojong Gede, Pondok Rajeg, Citayem, dan Ciseeng. Cerita yang dimainkan biasanya pendek dan bernafaskan Islam. Pada saat pergantian babak sering diperdengarkan lagu-lagu dzikir berbahasa Arab atau lagu-lagu berbahasa Betawi. Musik pengiringnya terdiri dari rebab, kecrek, kromong, kenong, dan gong.

3)        Ludruk di Jawa timur.
Ludruk merupakan  drama rakyat yang berasal dari daerah Jombang, Jawa Timur selain reog dan jemblung. Dalam perkembangannya ludruk menyebar ke daerah-daerah sebelah barat seperti karesidenan Madiun, Kediri, dan sampai ke Jawa Tengah. Ciri-ciri bahasa dialek Jawa Timuran tetap terbawa meskipun semakin ke barat makin luntur menjadi bahasa Jawa setempat.
Dibandingkan dengan kesenian drama rakyat lainnya, ludruk memiliki ciri khusus pada para pemainnya yang semuanya diperankan oleh laki-laki. Untuk peran wanitapun dimainkan oleh laki-laki. Hal ini terjadi karena pada zaman itu wanita tidak diperkenankan muncul di depan umum.
Dengan menggunakan bahasa Jawa dialek Jawa Timuran yang segar dan penuh humor, para pemain ludruk bisanya memainkan cerita tentang segala hal yang berhubungan dengan lingkungan sekitarnya. Peralatan musik daerah yang digunakan untuk mengiringi adegan terdiri dari  kendang, cimplung, jidor dan gambang. sedangkan lagu-lagu (gending) yang digunakan, yaitu Parianyar, Beskalan, Kaloagan, Jula-juli, Samirah, Junian.
4)      Ketoprak di Jawa tengah.
Ketoprak merupakan drama rakyat yang begitu populer di Jawa Timur dan Jawa Tengah terutama di daerah Yogyakarta selain Srandul, Jemlung, dan Gotoloco. Pada mulanya ketoprak bukanlah sebuah tontonan, tapi hanya merupakan permainan orang-orang desa yang sedang menghibur diri dengan menabuh lesung pada waktu bulan purnama, yang disebut gejogan. Dalam perkembangannya ditambahi nyanyian, juga tarian hingga menjadi suatu bentuk drama rakyat yang lengkap.
Kesenian ketoprak pertama kali ditemukan oleh Wreksodiningrat di Klaten. Dari penemuan ini kemudian dikembangkan dengan menambahkan beberapa alat musik pengiring seperti kendang, terbang, suling, dan kecrek. Pada tahun 1909, ketoprak pertama kali dipentaskan di depan penonton. Cerita yang disajikan biasanya seperti ‘Damarwulan’, ‘Aji Saka’, ‘Lara Mendut’, dan lain-lain.
Dalam pertunjukannya, ketoprak sangat memperhatikan bahasa yang digunakan. Meskipun yang digunakan bahasa Jawa, namun harus diperhitungkan masalah unggahungguh (tingkatan-tingkatan) bahasa. Selain itu, diperhatikan pula kehalusan bahasa. Karena itu muncul yang disebut bahasa ketoprak, bahasa Jawa dengan bahasa yang halus dan spesifik.

5)      Ubrug dan Longser di Jawa Barat.
a)      Ubrug
Ubrug merupakan teater tradisional bersifat kerakyatan yang terdapat di daerah Banten. Bahasa yang digunakan dalam pertunjukkan ubrug adalah bahasa campuran daerah Sunda, Jawa dan Melayu. Musik yang digunakan untuk megiringi drama ini terdiri dari iringan musik gamelan dan goong buyung. Busana yang dikenakan para pemeran disesuaikan dengan cerita yang dekat dengan kehidupans ehari-hari. Sedangkan untuk para penari berbusana srimpian. Para pemain biasanya bertukar busana dan berhias di tempat pemusik.
Seperti drama rakyat lainnya, Ubrug dapat dipentaskan di ruang terbuka seperti halaman rumah atau tanah lapang dengan menggunakan penerangan obor atau petromaks yang disimpan di tengah arena pentas. Ubrug dipentaskan bukan saja untuk hiburan, tetapi juga untuk memeriahkan suatu “hajatan”, atau meramaikan suatu “perayaan”. Untuk apa saja, yang dilakukan masyarakat, ubrug dapat diundang tampil.
Cerita-cerita yang dipentaskan terutama cerita rakyat, sesekali dongeng atau cerita sejarah Beberapa cerita yang sering dimainkan ialah Dalem Boncel, Jejaka Pecak, Si Pitung atau Si Jampang (pahlawan rakyat setempat, seperti juga di Betawi). Gaya penyajian cerita umumnya dilakukan seperti pada teater rakyat, menggunakan gaya humor (banyolan), dan sangat karikatural sehingga selalu mencuri perhatian para penonton.
b)      Longser
Menurut asala katanya, longser berasal dari kata melong (melihat) dan seredet (tergugah). Artinya barang siapa melihat (menonton) pertunjukan, hatinya akan tergugah. Pertunjukan longser sama dengan pertunjukan kesenian rakyat yang lain, yang bersifat hiburan sederhana, sesuai dengan sifat kerakyatan, gembira dan jenaka. Sebelum longser lahir, ada beberapa kesenian yang sejenis dengan Longser, yaitu lengger. Ada lagi yang serupa, dengan penekanan pada tari, disebut ogel atau doger.
Longser merupakan jenis drama rakyat yang terdapat di wilayah Priangan seperti Subang, bandung, dan sekitarnya. Pertunjukan longser hampir sama dengan drama rakyat di Jawa Barat lainnya. Perbedaannya terdapat pada jenis-jenis tarian yang sering memasukkan silat dan ketuk tilu yang dilengkapi dengan sinden atau juru kawih. Gamelan pengiring yang digunakan adalah gamelan salendro dengan dua belas nayaga. Selian longser, ada juga jenis kesenian drama rakyat lainnya seperti Banjet, Topeng Cirebon, Tarling, dan Ketuk tilu.

6)      Mamanda dan Bapandung di Kalimantan Selatan.
Mamanda merupakan drama rakyat asli suku Banjar di Provinsi Kalimantan Selatan. Menurut sejarahnya, pada tahun 1897 datang ke Banjarmasin suatu rombongan bangsawan Malaka. Selain untuk kepentingan berdagang, rombingan ini juga memperkenalkan suatu kesenian baru yang bersumber dari syair Abdoel Moeloek. Kesenian tersebut kemudian dikenal dengan sebutan Badarmuluk. Seiring perkembangan zaman, sebutan untuk kesenian ini berkembang menjadi bamanda atau Mamanda.
Ada dua jenis aliran dalam mamanda, yaitu:
1.    Aliran Batang Banyu
Ciri khas dari liran ini adalah dari proses pementasannya yang dilakukan di perairan atau di sungai. Aliran yang juga disebut Mamanda Periukdan berasal dari Margasari ini merupakan cikal bakal Mamanda.
2.    Aliran Tubau
Aliran yang berasal dari Desa Tubau Rantau ini merupakan perkembangan baru dari Mamanda yang kini justru lebih terkenal dari Mamanda aliran Batang Banyu. Dalam pementasannya, cerita yang diangkat tidak bersuber dari syair atau hikayat, namun dikarang sendiri dan disesuaikan dengan perkembangan zaman. Struktur pertunjukkannya masih sama seperti pementasan drama lainnya yang dimulai dari ladon atau konom, sidang kerajaan, dan cerita. Pementasan aliran ini tidak mengutamakan musik atau tari, namun lebih mengutamakan bagaimana isi ceritanya. Aliran ini dipentaskan di daratan sehingga juga dikenal dengan sebutan Mamanda Batubau.

7)      Makyong dari Riau
Makyong merupakan drama rakyat Melayu yang masih hidup sampai di Malaysia, Singapura, bahkan Muangthai. Makyong yang paling tua terdapat di pulau Mantang, salah satu pulau di daerah Riau. Pada mulanya kesenian Makyong berupa tarian joget atau ronggeng. Dalam perkembangannya kemudian dimainkan dengan cerita-cerita rakyat, legenda dan juga cerita-cerita kerajaan. Makyong juga digemari oleh para bangsawan dan sultansultan, hingga sering dipentaskan di istana-istana.
Pertunjukkan makyong menggunakan media ungkap tarian, nyanyian, laku, dan dialog dengan membawa cerita-cerita rakyat yang sangat populer di daerahnya. Cerita-cerita rakyat tersebut bersumber pada sastra lisan Melayu. Drama ini dipertunjukkan di tempat  terbuka untuk keperluan hajatan. Semua pemeran yang sebgian besar wanita ini menggunakan topeng dalam pertunjukkannya. Iringan musik yang digunakan adalah kendang, serunai, rebab, gong, mong-mong (gong kecil) masing-masing satu buah.
Pementasan makyong selalu diawali dengan bunyi tabuhan yang dipukul bertalu-talu sebagai tanda bahwa ada pertunjukan makyong dan akan segera dimulai. Setelah penonton berkumpul, kemudian seorang pawang (sesepuh dalam kelompok makyong) tampil ke tempat pertunjukan melakukan persyaratan sebelum pertunjukan dimulai yang dinamakan upacara buang bahasa atau upacara membuka tanah dan berdoa untuk memohon agar pertunjukan dapat berjalan lancar.
Penari dalam pertunjukan makyong
8)      Arja di Bali.
Menurut asal katanya, Arja berasal dari bahasa Sansekerta “reja” yang kemudian mendapat awalan “a” sehingga menjadi “areja” dan akhirnya berubah menjadi Arja yang berarti keindahan atau mengandung keindahan. Sebagai suatu bentuk drama, Arja merupakan seni drama yang sangat kompleks karena merupakan perpaduan dari berbagai jenis kesenian yang hidup di Bali, seperti seni tari, seni drama, seni vokal, seni instrumentalia, puisi, seni peran, seni pantomim, seni busana, seni rupa dan sebagainya. Di Bali, Arja masih tersebar di banyak wilayah, seperti Bangli, Klungkung, Gianyar, Anlapura, Badung, Tabanan, Jembrana, hingga Singaraja.
Arja menyajikan cerita kerajaan dan perwatakannya sangat diperngaruhi oleh adanya kasta seperti Cerita Panji, Cerita Mahabarata, Ramayana dan sejenisnya. Pada tahapan berikutnya, cerita dalam pertunjukkan Arja berkembang sampai cerita-cerita keseharian yang dapat membuat orang sejenak melupakan segala permasalahan keluarga, pekerjaan dan lainnya yang dialami pada siang hari sebelumnya.

Selain bentuk-bentuk drama rakyat di atas, masih banyak lagi jenis drama atau teater rakyat lainnya baik yang berupa drama tutur maupun drama rakyat yang sudah diperagakan yang semuanya tersebar di seluruh wilayah nusantara. Sebagian dari drama rakyat tersebut telah mengalami perubahan sesuai dengan perkembangan kreatifitasnya. Perkembangan teknologi serta komunikasi yang cukup pesat bahkan  membawa pengaruh terhadap tumbuh dan berkembangnya kesenian tersebut.
Beberapa jenis drama tradisional kemudian dikenal luas oleh masyarakat dari etnis lainnya. Kesenian longser, yang semula dikenal sebagai jenis teater tradisional dari Jawa Barat, kini digemari pula oleh masyarakat lainnya di luar Jawa Barat. Demikian juga dengan ketoprak (Jawa Tengah), ludruk (Jawa Timur), lenong (Jakarta), dan yang lainnya. Gejala perkembangan seperti ini merupakan kebahagiaan tersendiri bagi kesenian tradisional di Indonesia. Selain memupuk rasa toleransi berkesenian antar etnis, juga diharapkan mampu menjaga kelestarian kekayaan seni tradisi yang kini mulai mengkhawatirkan. Budaya global secara negatif yang sangat cepat diserap oleh generasi muda, akan terkikis dengan sendirinya bila diimbangi dengan semangat cinta akan kesenian tradisi milik sendiri.

c)      Drama atau Teater Wayang/Klasik
Wayang merupakan suatu bentuk drama tradisional yang sangat tua. Jejak keberadaannya dapat kita temukan pada berbagai prasasti pada Zaman Raja Jawa, antara lain pada masa Raja Balitung. Pada masa pemerintahan Raja Balitung, telah ada petunjuk adanya pertunjukan Wayang seperti yang terdapat pada Prasasti Balitung dengan tahun 907 Masehi. Prasasti tersebut mewartakan bahwa pada saat itu telah dikenal adanya pertunjukan wayang. Petunjuk lainnya juga dapat ditemukan dalam sebuah kakawin Arjunawiwaha karya Mpu Kanwa, pada Zaman Raja Airlangga dalam abad ke-11. Namun  bentuk wayang pada zaman itu belum jelas tergambar model pementasannya.
Di Jawa, awal mula adanya wayang  diketahui pada saat Prabu Jayabaya bertakhta di Mamonang pada tahun 930 M. Saat itu Sang Prabu ingin mengabadikan wajah para leluhurnya dalam bentuk gambar yang kemudian dinamakan Wayang Purwa. Dalam gambaran itu diinginkan wajah para dewa dan manusia Zaman Purba. Pada mulanya hanya digambar di dalam rontal (daun tal). Kemudian berkembang menjadi wayang kulit sebagaimana dikenal sekarang.
Secara harfiah, wayang berarti bayangan. Artinya, dunia yang diperlihatkan lewat pertunjukkan wayang merupakan bayangan dari kehidupan kita sehari-hari. Dari segi fisik, pertunjukkan wayang, terutama wayang kulit, memang terjadi dari bayangan boneka wayang yang disorot oleh lampu blencong  dan jatuh pada kain putih bertepi merah yang merentang lebar (kelir).
Penyajian wayang biasanya dilakukan semalam suntuk oleh seorang dalang. Dalang ini memiliki peran dominan dalam pertunjukkan wayang. Seorang dalang harus bisa menguasai semua dialog dan jenis suara tiap karakter, membuat suara-suara pembentuk suasana adegan, memberi komando pada pemain gamelan, sambil tetap memainkan wayang di tangannhya. Pertunjukkan dibuka dan ditutup dengan permainan wayang berbentuk seperti daun bernama gunungan/kayon. Gunungan ini merupakan pohon kehidupan, simbol dari dunia.
Berikut ini disajikan beberapa bentuk drama wayang yang ada di daerah-daerah di Indonesia.
1)      Wayang Kulit
Wayang kulit merupakan drama klasik yang menggunakan bentuk wayang dari kulit tipis yang dilukis cermat dengan warna-warni yang menjelaskan karakter. Untuk mementaskan pertunjukan wayang kulit secara lengkap dibutuhkan kurang lebih sebanyak 18 orang pendukung. Satu orang sebagai dalang, 2 orang sebagai waranggana, dan 15 orang sebagai penabuh gamelan merangkap wiraswara. Rata-rata pertunjukan dalam satu malam adalah 7 sampai 8 jam, mulai dari jam 21.00 sampai jam 05.00 pagi. Bila dilakukan pada siang hari pertunjukan biasanya dimulai dari jam 09.00 sampai dengan jam 16.00. Tempat pertunjukan wayang ditata dengan menggunakan konsep pentas yang bersifat abstrak. Arena pentas terdiri dari layar berupa kain putih dan sebagai sarana tehnis di bawahnya ditaruh batang pisang untuk menancapkan wayang.
Dalam pertunjukkannya, wayang kulit digerakkan oleh seorang dalang yang bercerita juga berdialog sekaligus. Ketika berdialog, dalang mampu mengubah suaranya sesuai dengan tokoh wayang yang sedang dimainkannya dari balik layar. Karenanya, dalam pertunjukkan wayang kulit penonton tidak dapat melihat wayang yang dimainkan dalang secara langsung, melainkan hanya melihat bayangan wayangnya saja. Musik yang mengiringi pertunjukkan wayang kulit berasal dari gamelan lengkap dan tembang yang dinyanyikan oleh pesinden.

2)    Wayang wong (wayang orang)
Dalam bahasa Indonesia Wayang Wong artinya wayang orang, yaitu pertunjukan yang dimainkan oleh para pemeran yang memerankan tokoh wayang.  Pertunjukan wayang orang terdapat di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sedangkan di Jawa Barat ada juga pertunjukan wayang orang (terutama di Cirebon) tetapi tidak begitu populer.
Berbeda dengan pertunjukkan wayang kulit, wayang wong tidak memunculkan dalang sebagaimana dalam wayang kulit. Dalang wayang orang hanya bertindak sebagai pengatur perpindahan adegan, yang ditandai dengan suara suluk atau monolog. Dalam dialog yang diucapkan oleh pemain, sedikit sekali campur tangan dalang. Dalang hanya memberikan petunjuk-petunjuk garis besar saja. Selanjutnya pemain sendiri yang harus berimprovisasi dengan dialognya sesuai dengan alur ceritera yang telah diberikan oleh sang dalang. Selain harus pandai berakting, para pemain ini harus pandai menari dan menyanyi di atas panggung yang sudah menggunakan set dekorasi lengkap dengan gambar realis seperti hutan, alun-alun, gerang keraton, jalan desa, dan lain-lain.
Lama pertunjukan wayang orang biasanya sekitar 7 atau 8 jam untuk satu lakon, biasanya dilakukan hanya pada malam hari. Untuk menyelenggarakan pertunjukan wayang orang secara lengkap, biasanya dibutuhkan pendukung sebanyak 35 orang, yang terdiri dari 20 orang sebagai pemain (terdiri dari pria dan wanita), 12 orang sebagai penabuh gamelan merangkap wiraswara, 2 orang sebagai waranggana, dan 1 orang sebagai dalang. Sedangkan untuk musik pengiring yang digunakan adalah seperangkat Gamelan seperti juga dalam wayang kulit yaitu  pelog dan slendro.


3)      Wayang Golek
Wayang golek merupakan drama klasik yang berasal dari Jawa Barat. Seperti wayang kulit, wayang golek juga tidak menggunakan manusia sebagai medianya, tetapi menggunakan boneka kayu berwujud tokoh-tokoh wayang. Berbeda dengan wayang kulit, wayang golek ini lebih realis, karena bentuknya menyerupai bentuk badan manusia serta dilengkapi dengan kostum yang terbuat dari kain.
Dalam pertunjukkannya, dalang merupakan orang yang bercerita sekaligus berdialog mewakili para tokoh wayang. Untuk berdialog, dalang mampu mengubah suaranya sedemikian rupa sehingga menarik. Jenis drama ini pun menggunakan musik gamelan lengkap sebagai pengiringnya, dan dibantu beberapa sinden sebagai penyanyi yang isi syairnya memperjelas cerita.
 
2.      Drama atau Teater Transisi
Drama atau Teater Transisi merupakan jenis drama tradisional yang sudah  mendapat pengaruh konsep teater Barat yang dipentaskan oleh orang-orang Belanda di Indonesia sekitar tahun 1805 yang kemudian berkembang hingga di Betawi (Batavia) dan mengawali berdirinya gedung Schouwburg pada tahun 1821 (Sekarang Gedung Kesenian Jakarta). Selain konsep teater dari Barat, drama bangsawan juga dipengaruhi bentuk teater yang datang dari Timur Tengah, dan sangat kuat ditunjang oleh kebudayaan Melayu.
Pengaruh ini nampak dari beberapa perubahan yang terdapat pada penulisan cerita dan cara penyajian pertunjukkan. Cerita dalam drama atau teater bangsawan sudah mulai ditulis, meskipun masih dalam wujud cerita ringkas atau outline story (garis besar cerita per adegan). Cara penyajian cerita pun sudah menggunakan set panggung lengkap dengan tata dekor, lampu, rias dan lain-lain layaknya drama modern.
Beberapa kelompok drama yang lahir pada masa transisi ini diantaranya adalah sebagai berikut.
a.       Perkumpulan kelompok drama Komedie Stamboel di Surabaya pada tahun 1891 yang didirikan oleh Agust Mahieu.
b.      Sandiwara Dardanella (The Malay Opera Dardanella) yang didirikan Willy Klimanoff alias A. Pedro pada tanggal 21 Juni 1926.
c.       Opera Stambul, Komidi Bangsawan, Indra Bangsawan, Sandiwara Orion, Opera Abdoel Moeloek, Sandiwara Tjahaja Timoer, juga kelompok sandiwara Maya yang dipimpin oleh Usmar Ismail.

3.        Drama atau Teater Modern
Drama atau teater modern merupakan periode baru dalam drama tradisional yang sudah mendapatkan pengaruh dari ‘Teater Barat’. Artinya, susunan naskah, cara pentas, gaya penyuguhan, dan pola pemikiran banyak bersumber dari pola pendekatan dan pemikiran ‘kebudayaan barat’. Jadi jelas, bahwa Drama atau teater modern mulai tumbuh dengan ditandai dengan adanya penulisan naskah serta diikat oleh hukum-hukum dramaturgi.
Periode pementasan drama dengan menggunakan naskah sebenarnya dimulai sejak tahun 1901 ketika F. Wiggers menulis sastra drama satu babak yang pertama berjudul ‘Lelakon Beij Retno’. Meskipun tidak jelas untuk keperluan apa naskah tersebut dibuat, namun mulai nampak kecenderungan pengaruh dari ‘Barat’ tersebut yang diikuti pula oleh penulis-penulis naskah drama lainnya.
Meski demikian, bentuk sastra drama yang pertamakali menggunakan bahasa Indonesia dan disusun dengan model dialog antar tokoh dan berbentuk sajak adalah Bebasari (artinya kebebasan yang sesungguhnya atau inti kebebasan) karya Rustam Efendi (1926). Lakon Bebasari merupakan sastra drama yang menjadi pelopor semangat kebangsaan. Setelahnya kemudian muncul beberapa penulis lakon lainnya seperti Sanusi Pane, Muhammad Yamin, Armiijn Pane, Nur Sutan Iskandar, Imam Supardi, Dr. Satiman Wirjosandjojo, Mr. Singgih, hingga Ir. Soekarno. Penulis-penulis ini adalah cendekiawan Indonesia, menulis dengan menggunakan bahasa Indonesia dan berjuang untuk kemerdekaan Indonesia. Naskah-naskah yang ditulisnya memiliki tema kebangsaan, persoalan, dan harapan serta misi mewujudkan Indonesia sebagai negara merdeka.
Pada tahun 1940-an, semua unsur kesenian dan kebudayaan dikonsentrasikan untuk mendukung pemerintahan totaliter Jepang. Segala daya kreasi seni secara sistematis diarahkan untuk menyukseskan pemerintahan totaliter Jepang. Rombongan sandiwara yang mula-mula berkembang pada zaman ini adalah rombongan sandiwara profesional. Dalam kurun waktu ini semua bentuk seni hiburan yang berbau Belanda lenyap karena pemerintah penjajahan Jepang anti budaya Barat. Rombongan sandiwara keliling komersial, seperti misalnya Bintang Surabaya, Dewi Mada, Mis Ribut, Mis Tjitjih, Tjahaya Asia, Warna Sari, Mata Hari, Pancawarna, dan lain-lain kembali berkembang dengan mementaskan cerita dalam bahasa Indonesia, Jawa, maupun Sunda.
Pertumbuhan sandiwara profesional tidak luput dari perhatian Sendenbu. Jepang menugaskan Dr. Huyung (Hei Natsu Eitaroo), ahli seni drama atas nama Sendenbu memprakarsai berdirinya POSD (Perserikatan Oesaha Sandiwara Djawa) yang beranggotakan semua rombongan sandiwara profesional. Sendenbu menyiapkan naskah lakon yang harus dimainkan oleh setiap rombongan sandiwara karangan penulis lakon Indonesia dan Jepang, Kotot Sukardi menulis lakon, Amat Heiho, Pecah Sebagai Ratna, Bende Mataram, Benteng Ngawi. Hei Natsu Eitaroo menulis Hantu, lakon Nora karya Henrik Ibsen diterjemahkan dan judulnya diganti dengan Jinak-jinak Merpati oleh Armijn Pane. Lakon Ibu Prajurit ditulis oleh Natsusaki Tani. Oleh karena ada sensor Sendenbu maka lakon harus ditulis lengkap berikut dialognya.
Para pemain tidak boleh menambah atau melebih-lebihkan dari apa yang sudah ditulis dalam naskah. Sensor Sendenbu malah menjadi titik awal dikenalkannya naskah dalam setiap pementasan sandiwara. Menjelang akhir pendudukan Jepang muncul rombongan sandiwara yang melahirkan karya ssatra yang berarti, yaitu Penggemar Maya (1944) pimpinan Usmar Ismail, dan D. Djajakusuma dengan dukungan Suryo Sumanto, Rosihan Anwar, dan Abu Hanifah dengan para anggota cendekiawan muda, nasionalis dan para profesional (dokter, apoteker, dan lain-lain). Kelompok ini berprinsip menegakkan nasionalisme, humanisme dan agama. Pada saat inilah pengembangan ke arah pencapaian teater nasional dilakukan. Teater tidak hanya sebagai hiburan tetapi juga untuk ekspresi kebudayaan berdasarkan kesadaran nasional dengan cita-cita menuju humanisme dan religiositas dan memandang teater sebagai seni serius dan ilmu pengetahuan. Kelak, Penggemar Maya menjadi pemicu berdirinya Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI) di Jakarta.
ATNI merupakan akademi teater modern yang pertama di Asia Tenggara yang menggalakkan dan memapankan realisme dengan mementaskan lakon-lakon terjemahan dari Barat, seperti karyakarya Moliere, Gogol, dan Chekov. Sedangkan metode pementasan dan pemeranan yang dikembangkan oleh ATNI adalah Stanislavskian. Alumni Akademi Teater Nasional yang menjadi aktor dan sutradara antara lain, Teguh Karya, Wahyu Sihombing, Tatiek Malyati, Pramana Padmadarmaya, Galib Husein, dan Kasim Achmad. Mereka adalah dramawan-dramawan Indonesia yang juga melahirkan beberapa naskah drama modern yang berkualitas.
Jika diurutkan berdasarkan angka tahun, berikut ini adalah gambaran beberapa naskah drama yang berhasil ditulis oleh para dramawan Indonesia.
1.        Tahun 1913  : naskah drama berjudul ‘Karina, Adinda, Lelakon komedie Hindia Timoer’ karya lauw Giok Lan yang disadur dari naskah karya Victor Ido.
2.        Tahun 1917  :  naskah ‘Tjerita Satoe Ibu Tiri Pinter Adjar Anak’ karya Kiong Ho Hie.
3.        Tahun 1919  :  naskah ‘Allah Jang Palsoe’ karya Kwee Tek Hoay saduran dari naskah karya E. Philip Oppeinheim berjudul ‘The False Gods’.
4.        Tahun 1923  :  naskah ‘Lajar Malaise’ karya Ang Jan Goan.
5.        Tahun 1924  :  naskah ‘Siapa jang Berdosa’ karya Oen Tjing Tiauw.
6.        Tahun 1926  :  naskah ‘Bebasari’ karya Roestam Effendi.
7.        Tahun 1926  :  naskah ‘Korbannja Kong Ek’ karya Kwee Tek Hoay.
8.        Tahun 1927  :  naskah Rainbow, Krukut Bikutbi, dan Dr. Setan karya Ir. Soekarno.
9.        Tahun 1928  :  naskah ‘Airlangga’ karya Sanoesi Pane.
10.    Tahun 1930  :  naskah ‘Kebiasaan Boesoek’ karya Tjing Tiauw.
11.    Tahun 1931  :  naskah ‘Bapak Kerbo Anak Sapi’ karya Ong Pik Lok.
12.    Tahun 1932  :  naskah ‘Kertajaya’ karya Sanusi Pane.
13.    Tahun 1932  :  naskah ‘Eenzame Garoedavlucht’ karya Sanusi Pane.
14.    Tahun 1933  :  naskah ‘Djoeal Air Kringet’ karya Ong Pik Lok.
15.    Tahun 1934  :  naskah ‘Ken Arok dan Ken Dedes’ karya Muhamad Yamin.
16.    Tahun 1936  :  naskah ‘Biji Lada’ karya Kwee Tek Hoay.
17.    Tahun 1937  :  naskah ‘Setahun di Bedahulu’ karya Armijn Pane.
18.    Tahun 1937  :  naskah ‘Loekisan Masa’ karya Armijn Pane.
19.    Tahun 1938  :  naskah ‘Satoe Katja’ karya Oen Tjing Tiauw.
20.    Tahun 1939  :  naskah ‘Nyai Lenggang Kencana’ karya Armijn Pane.
21.    Tahun 1940  :  naskah ‘Manoesia Baroe’ karya Sanoesi Pane.
22.    Tahun 1943  :  naskah ‘Citra’ karya Usmar Ismail.
23.    Tahun 1944  :  naskah ‘Liburan Seniman’ karya Usmar Ismail.
24.    Tahun 1945  :  naskah ‘Dokter Bisma’ karya Idrus.
25.    Tahun 1946  :  naskah ‘Suling’ karya Utuy Tatang Sontani.
26.    Tahun 1947  :  naskah ‘Bunga Rumah Makan’ karya Utuy Tatang Sontani.
27.    Tahun 1948  :  naskah ‘Keluarga Surono’ karya Idrus.
28.    Tahun 1950  :  naskah ‘Prabu dan Putri’ karya Rustandi Karta Kusumah.
29.    Tahun 1951  : naskah ‘Heddie dan Tuti’ karya Rustandi Karta Kusumah.
30.    Tahun 1952  :  naskah ‘Bentrokan dalam Asmara’ karya Achdiat Kartamihardja.
31.    Tahun 1953  :  naskah ‘Tjendera Kirana’ karya Sri Murtono.
32.    Tahun 1954  :  naskah ‘Jalan Mutiara’ karya Sitor Situmorang.
33.    Tahun 1958  :  naskah ‘Bunga Merah Merah Semwa. Bunga Putih Putih Semwa’ karya Rustandi Karta Kusumah’.
34.    Tahun 1960  : naskah ‘Sejuta Matahari’ karya Motingge Busye.
35.    Tahun 1961     : naskah ‘Pertahanan terakhir’ karya Endang Achmadi.
Pada periode tahun 1960 hingga akhir tahun 90-an, naskah drama semakin menunjukan banyak perkembangan. Penulisnya tidak hanya terfokus pada sastrawan yang sudah ternama, para mahasiswa atau para remaja yang tergabung dalam sanggar-sanggar teater juga sudah mulai menunjukkan bakatnya dalam bidang menulis naskah. Sebagian dari mahasiswa penggiat drama di kampus tersebut diantaranya ada Darmanto Jt. di Undip, Sanento Juliman di ITB, Bakdi Sumanto di Sanata Dharma, Godi Suwarna di IKIP Bandung, Hikmat Gumelar di UNPAD, dan beberapa nama lainnya hingga era tahun 2000-an seperti Yani Mae di STSI Bandung, Aan Sugianto Mas dari Uniiversitas Kuningan, Sosiawan Leak di UNS dan yang lainnya.
Dari beberapa sanggar drama, muncul beberapa nama seperti WS. Rendra (1935-2009) dari Bengkel Teater, Teguh Karya (1937-2001) dari Teater Populer, Nano Riantiarno (1949- ...) dari Teater Koma, Arifin C. Noor (.......) dari Teater Kecil, Putu Wijaya (1944-......) dari Teater Mandiri, Suyatna Anirun (........) dari Studiklub Teater Bandung, Rahman Sabur (1957-...........) dari Teater Payung Hitam, Mohamad Sunjaya (1937-.....) dari Actors Unlimited, Heru Kesawa Murti (1957-.....) dari Teater Gandrik, Dindon W. S. (1960-.....) dari Teater Kubur, hingga generasi Shinta Febriany (1979-......) dari Teater Kala di Makasar, dan yang lainnya.
Kondisi drama modern di Indonesia terus berkembang seiring dengan pesatnya kemajuan zaman. Meski gedung dan sarana pementasan lainnya tidak murah lagi, namun geliat aktivitas bermain drama tetap bertahan. Beberapa kelompok drama bahkan kembali kepada konsep pementasan drama tradisional yang menyelenggarakan aksi pentasnya di area terbuka seperti lapangan bola, alun-alun, aula sekolah, balai desa, dan sebagainya. Di beberapa sekolah dan kampus bahkan sudah memiliki kelompok drama yang rutin menyelenggarakan pementasan. Tercatat beberapa kelompok drama dari kampus yang masih rutin menyelenggarakn pementasan seperti Teater Awal dari STAIN (Jakarta, Bandung, Cirebon), Teater SK dari IAIN Sunan Kalijaga Jogjakarta, Teater ................. dari Universitas Negeri Jakarta, Teater Lakon dari UPI Bandung, Teater Pecut di Universitas Kuningan, juga beberapa kelompok lainnya.
Untuk memotivasi dan memunculkan potensi-potensi berbakat dalam dunia drama, beberapa komunitas dan lembaga yang peduli pada kemajuan drama menyelenggarakan workshop serta festival drama. Diantara festival drama yang sudah digelar adalah Festival Seni Pertunjukan Rakyat yang diselenggarakan Departemen Penerangan Republik Indonesia tahun 1983 di Yogyakarta, Festival Teater Jakarta (sebelumnya disebut Festival Teater Remaja) di Jakarta, Festival Drama Basa Sunda oleh Teater Sunda Kiwari di Bandung, Festival Drama Lima Kota di Surabaya, dan festival-festival drama lainnya. Sedangkan workshop drama marak dan cukup rutin diselenggarakan di beberapa sanggar teater seperti pelatihan ‘Gladiactor’ oleh Teater Populer, ‘Workshop Teater untuk Siswa SMA’ oleh Teater Koma, dan yang lainnya.








*Pembina dan Sutradara pada teater damar-SMAN 1 Susukan

1 komentar: